Trauma Anak-Anak NTT Akibat Bencana

Diperbarui: Apr 18

Bencana alam yang melanda wilayah NTT, selain meninggalkan dampak kerusakan baik fisik maupun mental juga akan menyisakan trauma bagi anak-anak. Meskipun trauma ini sulit diprediksi, namun dari pengalaman pelbagai bencana di banyak tempat anak-anak akan menunjukan reaksi trauma baik ketika bencana sedang berlangsung maupun trauma pasca bencana.

Faktor penyebab Trauma

Tidak hanya kekerasan fisik dan mental yang menjadi penyebab trauma anak. Tragedi dan bencana alam pun bisa meninggalkan luka psikis yang sulit sembuh bagi anak-anak terdampak. Jika dalam kasus-kasus kekerasan faktor penyebab bisa ditarik ke subjek kekerasan seperti orang dewasa, orang tua, guru dan teman, maka dalam suatu tragedi dan bencana trauma anak bisa saja lebih kompleks.

Tragedi yang melanda sebuah wilayah, dimana anak-anak ikut menjadi korban di dalamnya, menyisakan beragam kisah-kisah trauma mereka. Jika kita menengok ke berbagai belahan dunia, trauma anak-anak korban perang bisa menjadi urutan pertama dalam daftar. Ketakutan dan ancaman hidup mengikuti pergolakan psikis mereka di kemudian hari. Trauma semacam ini menjadi yang terburuk karena di dalamnya berisi segala kekejaman termasuk pembunuhan, penjarahan dan pelarian diri.

Anak-anak di NTT yang saat ini tengah mengalami langsung bencana alam di negerinya tentu saja akan memiliki trauma tersebut. Khusus kepada anak-anak yang mengalami kejadian langsung dimana bencana tersebut merenggut banyak korban jiwa, trauma mereka sangat mendekati teror pasca perang.

Bagaimana cara kita menghadapi trauma anak-anak ini?

Sulitnya menyembuhkan trauma disebabkan karena ‘luka yang tidak tampak’. Jika orang-orang menyebutnya sebagai dampak psikologis, hal itu hanya salah satu hal yang bisa didefenisikan. Mengapa demikian? Karena dalamsebuah bencana, anak-anak dihadapkan dengan peristiwa tidak terduga yang banyak di antara mereka tidak memahami apa itu. Namun mereka merasakan kengeriannya. Dalam kebingungan, mereka menyadari ada sesuatu yang tengah mengancam.

Bayangkan, pada malam saat mereka tertidur lelap tiba-tiba terbangun dan melihat banjir tengah mengepung kediaman. Atau, mereka terjaga dan langsung lari menyelamatkan diri. Dan yang paling buruk adalah ketika dalam evakuasi, mereka melihat anggota keluarganya ada yang jadi korban dan hilang dari jangkauan.

Untuk menghadapi trauma anak-anak dari wilayah bencana, maka setidaknya kita harus mencari tahu terlebih dahulu faktor penyebabnya. Faktor-faktor itu meliputi:

· Kejadian buruk yang tidak terduga. Ini yang paling banyak terjadi. Anak-anak tidak mampu bercerita apa sebenarnya yang terjadi pada malam atau hari dimana mereka merasakan teror dalam hidup mereka. Adapula beberapa anak yang melihat kejadian di depan mata namun terlalu takut untuk melihat kembali dalam memorinya. Anak-anak ini akan berusaha melupakannya, tetapi trauma tetap akan tumbuh di dalam diri.

· Kehilangan orang-orang terdekat. Tidak semua anak yang memiliki trauma akibat bencana berasal dari keluarga yang memiliki korban jiwa. Tetapi, anak-anak yang mengalami kehilangan orang-orang dekat akan memiliki trauma yang sangat kompleks. Beberapa psikolog menyebutkan bahwa dalam sebuah bencana ketika seorang nak kehilangan orang tua, saudara atau orang yang dekat dengannya bisa menimbulkan kemunduran psikis.

· Kehilangan tempat tinggal. Ini juga menjadi faktor penyebab. Jika orang dewasa mampu memahami tragedi dengan baik serta mampu bersikap ikhlas, maka tidak demikian dengan anak-anak. Rumah sebagai tempat paling aman bagi mereka hilang begitu saja akan mengguncang mental dari anak-anak terdampak.

· Lingkungan baru. Jika anak-anak terpaksa mengungsi, maka mereka menghadapi dunia baru yang asing. Hanya sebagian kecil yang menikmati perubahan ini. Sebagian besar justru merasa terancam meskipun dikelilingi orang tua dan keluarga di sekitarnya.

Mengetahui faktor penyebab bisa berarti orang dewasa atau kita mencoba dari dekat bagaimana perasaan anak-anak. Segala tindakan untuk mendampingi dan menyembuhkan mereka akan selalu bertolak dari alasan mengapa mereka trauma.

Anak-anak NTT hari ini yang terdampak langsung terhadap bencana banyak yang akan memiliki trauma di atas. Meskipun belum ada rilisan resmi mengenai hal tersebut, setidaknya sudah dapat diduga bahwa tidak sedikit jumlahnya. Ada yang telah kehilangan anggota keluarga, kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi dari kampung halaman.

Tips menghadapi trauma anak dalam bencana

Ada dua kondisi dimana anak-anak korban bencana butuh perhatian khusus terkait dampaknya terhadap psikis mereka. Pertama adalah ketika bencana sedang berlangsung dan yang kedua ketika bencana berakhir atau pasca bencana.

Saat bencana berlangsung

Menghadapi anak-anak ketika bencana sedang berlangsung bertujuan untuk mengendalikan bibit-bibit trauma mereka. Artinya, sedini mungkin mereka diselamatkan bukan hanya dari cedera fisik melainkan pula dari cedera psikis. Cara-cara berikut bisa membantu;

· Menenangkan anak-anak. Cara menenangkan anak-anak ketika sedang terjadi bencana adalah dengan menjelaskan apa yang sedang terjadi di sekitar mereka dan meyakinkan bahwa mereka akan baik-baik saja. Banyak orang dewasa yang berpikir untuk mengelabui anak-anak tentang peristiwa yaang sedang terjadi dengan tujuan untuk menenangkan anak-anak. Padahal, cara tersebut tidak semestinya. Anak-anak akan dengan mudah mengidentifikasi kebohongan tersebut. Memberitahu apa adanya memungkinkan anak-anak menyadari bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi dan menimpa mereka semua. Di sisi lain, meskipun anak-anak tahu sedang ada bencana namun mereka sadar mereka dilindungi oleh orang dewasa.

· Menguatkan anak-anak. Selain kejujuran orang dewasa tentang tragedi yang sedang terjadi, anak-anak sangat membutuhkan sokongan moril. Banyak dari mereka baru mengalami hal menakutkan tersebut sehingga mereka membutuhkan orang dewasa yang memastikan bahwa mereka akan aman. Bahwa bencana pada akhirnya akan berhenti dan mereka semua terselamatkan.

Pasca bencana

Seperti yang sudah disebutkan di atas, traauma pasca bencana bisa sangat kompleks bagi sebagian anak-anak. Selain guncangan akibat peristiwa langsung yang mereka saksikan saat bencana, maupun dampak psikis usai bencana.

Dampak psikis pasca bencana bisa dengan mudah kita bayangkan. Setelah bencana berakhir, anak-anak terdampak akan memikirkan kembali hal-hal yag hilang dari hidupnya. Dalam proses ini, akan ada banyak perasaan yang mulai mereka rasakan. Kehilangan, kesedihan dan teror.

Oleh karena itu, anak-anak terdampak bencana akan mendapatkan bimbingan dan penghiburan dari orang-orang dewasa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberi pendampingan adalah:

· Menciptakan suasana baru yang nyaman. Dalam rentang usia kanak-kanak, mereka membutuhkan suasana menghibur. Mengumpulkan anak-anak di sebuah pengungsian bisa sangat membantu mereka menemukan permainan baru dan teman bermain yang baru. Harapannya, secara perlahan anak-anak bisa menerima perubahan yang terjadi lalu membentuk kehidupan yang baru.

· Memberikan ruang. Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak perlu diberi ruang untuk menimbang situasi yang terjadi dengan caranya sendiri. Melalui bimbingan orang dewasa, anak-anak bisa didorong untuk mencoba memahami tragedi yang telah lewat. Dengan cara ini, mereka dilatih untuk merasa bersyukur bahwa mereka terselamatkan.

· Memfasilitasi kebutuhan. Salah satu alasan mengapa anak-anak mengalami trauma pasca bencana adalah kesadaran mereka bahwa bencana telah mengambil harta benda mereka. Dalam hal ini, donatur dari berbagai pelosok telah memberikan bantuannya. Memenuhi kebutuhan anak-anak adalah bentuk dari tanggung jawab orang dewasa agar anak-anak tidak merasa buruk akibat dari bencana.

Memang tidak mudah menghadapi trauma anak-anak pasca bencana. Butuh usaha dan waktu yang besar dari orang dewasa. Hari-hari ini, giliran anak-anak NTT yang memerlukan bantuan tersebut. YKA sebagai perpanjangan tangan dari para donatur sudah berada di tengah anak-anak tersebut. Harapannya, anak-anak NTT yang terdampak akan pulih dari tragedi yang terjadi.

3 tampilan0 komentar