Super Hero: Kebajikan Yang Bukan Imajinatif

Diperbarui: Apr 16


Dunia akan selalu menghormati Disney melalui berbagai cara. Melalui film-filmnya, dia menjadi pahlawan sesungguhnya bagi banyak orang. Orang-orang tumbuh besar dengan mengenang film-film masa kecil mereka, berbicara tentang kearifan dari manusia-manusia super. Lebih dari itu, mengingat Disney seperti mengingat dongeng mengenai hancurnya kejahatan di dunia ini oleh kebajikan-kebajikan dalam diri super hero.

Kebaikan vs kejahatan versi Disney


“Our greatest natural resource is the minds of our children.” Walter Elias Disney.


Walt Disney telah menjadi salah satu pemikir terbaik untuk anak-anak. Melalui karya-karya filmnya, dia justru berhasilkan menanamkan materi sederhana dengan dampak besar mengenai kebaikan dan kejahatan.

1. Kejahatan itu memang ada. Mudah diidentifikasi.

Tokoh jahat dalam film-film disney terbentuk dari unsur-unsur gelap. Sama halnya dengan budaya lokal kita yang menempatkan kegelapan dalam bentuk fiksi-fiksi imajinatif melalui pocong, genderuwo dll. Dengan cara ini, anak-anak akan melihat sosok seperti apa iblis itu. Ketika kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa kejahatan itu buruk, kita tidak memiliki wujud yang tetap mengenai kejahatan itu.

Film setidaknya membantu kita menampilkannya. Orang jahat dalam film adalah sosok yang di dalamnya terdapat sifat licik, serakah, pembunuh, pembohong, dsb. Anak-anak akan dengan cepat melakukan konfirmasi mengenai ini, mereka akhirnya bisa menerima apa yang orang dewasa maksud sebagai kuasa kegelapan.

2. Hanya kebaikan yang bisa mengalahkan kejahatan.

Super hero pada awalnya terlihat sebagai manusia-manusia dengan kekuatan luar biasa. Mungkin pendekatan ini terlalu tinggi, namun anak-anak tetap mampu menangkap kebajikan-kebajikan di dalamnya. Alasan mengapa harus selalu manusia super yang mengalahkan iblis adalah karena tujuan dari film itu sendiri. Disney membuat filmnya agar anak-anak mengenal kebaikan dan kejahatan di dunia. Maka, kedua hal ini mesti memiliki bentuk yang berbeda dari manusia normal. Dia menempatkan kejahatan sebagai kekuatan kegelapan dan menempatkan kebaikan sebagai kuasa tertinggi untuk mengalahkan kejahatan. Sesederhana itu.

3. Kebaikan sejati mesti melalui perjuangan untuk bertahan.

Banyak scene dalam film-film Disney yang menampilkan sosok ‘jahat’ yang berpura-pura baik. Anak-anak yang sejak awal sudah berhasil membedakan manusia super dari manusia jahat, pasti bisa melihat upaya iblis ini. Tujuannya agar anak melihat mana kebaikan sejati. Sosok super hero bahkan sering dibuat menderita dalam perlawanannya. Sebelum akhirnya keluar sebagai pemenang, super hero harus bertarung sekuat tenaga. Nyaris mati bahkan. Pola semacam ini akan selalu ada pada film. Nilai positifnya, dengan cara ini anak-anak melihat bahwa mempertahankan kebaikan tidak semulus yang mereka pikir. Iblis bisa saja tampil lembut dan baik hati. Maka mereka harus melihat kebaikan yang sejati di dunia ini.

4. Kebajikan akan menerima tepuk tangan dan hadiah di akhir.

Film-film anak, super hero tidak pernah dan tidak boleh mati. Begitu aturan tidak bakunya. Anak-anak mesti dibuat senang di akhir perjuangan manusia super dalam membawa misi kebaikan kepada dunia. Dongeng-dongeng terbaik di dunia ini membuat anak-anak senang di akhir kisah, begitu pula film Disney. Inilah letak nilai yang coba diterapkan, bahwa sesulit apa pun itu, kebajikan dari perbuatan baik akan selalu menang. Bahkan, perbuatan baik akan mendapatkan hadiah besar setelah berhasil mengalahkan kejahatan.

5. Ketika kebaikan menang, maka dunia ini indah.

Sekali lagi, film mampu menerjemahkan defenisi kegelapan kepada anak-anak. Sebagai orang dewasa, kita mungkin melihat tampilan audio-visual yang disebut sebagai kuasa kegelapan itu sebagai sesuatu yang dangkal. Namun, kita jangan menampik bahwa anak-anak menyukai apa yang bisa terlihat. Mereka selalu menanyakan kepada orang dewasa, ketika sebuah buku dibacakan kepada mereka, tentang apa itu kejahatan? Apa itu iblis? Apa itu hal buruk? Orang dewasa memang sanggup memberikan penjelasan dengan pendekatan yang masuk akal. Tetapi kita tidak bisa menebak gambaran apa yang mampir ke benak anak-anak ketika mendengar kita menjelaskan mengenai sosok-sosok kegelapan itu.

Disney menampilkan gambaran secara umum. Langit yang tiba-tiba tertutup awan tebal, halilintar menggelegar, mata yang menyala merah dalam kegelapan. Itu sebagai gambaraan kegelapan. Sebaliknya, bunga-bunga yang kembali mekar, kabut yang tersingkap dan matahari bersinar cerah, sebagai bentuk dari hancurnya kejahatan, sihir dan iblis.

Kekurangan Film Disney bagi anak-anak

Walt Disney telah melampaui banyak pemikir kreatif di zamannya. Dia berhasil mementaskan seni mendidik anak dengan cara sederhana tapi efektif. Bahwa tokoh-tokoh fiktifnya seringkali melewati batas pemahaman anak, itu soal lain. Pedomannya mengenai kebaikan harus menang dalam memerangi kejahatan adalah yang paling penting.

Akan tetapi ada satu celah yang bisa kita temukan. Film Disney, satu sisi mengajarkan anak menemukan sosok kejahatan dan pada saat yang sama justru sedikit menjerumuskan anak bahwa ‘manusia jahat’ harus diperangi. Film belum mampu sampai ke tahap ketika anak dididik untuk memerangi kejahatan dan bukan memerangi manusianya.

Sekali-sekalinya seorang anak menemukan dirinya sebagai manusia super yang penuh dengan kebaikan, maka dia butuh manusia jahat. Dia harus berperang dengan bentuk fisik dari kuasa kegelapan itu.

Dampaknya kepada kehidupan sehari-hari sangat jelas. Anak akan membenci kejahatan sekaligus orangnya. Ketika ada temannya yang berbuat curang, anak itu akan membenci temannya. Dia berpikir untuk mengalahkan temannya, bisa jadi dengan cara menyakiti atau melukainya.

Kekhawatiran ini perlu menjadi catatan orang dewasa. Sebagai orang tua atau guru, kita harus mengambil jalan untuk menutup celah di atas. Pendidikan agama menjadi satu solusi dalam menyeimbangkan pengetahuan anak yang berasal dari film Disney. Entah dengan cara bagaimana, anak-anak semestinya dibawa untuk sampai pada pemahaman dasar bahwa yang dia lawan adalah kejahatan. Dan kejahatan itu bukan manusia, melainkan sebuah kekuatan gelap yang hinggap pada manusia.

Latih anak untuk lebih mencintai dirinya sendiri


The more you like yourself, the less you like anyone else, wich makes you unique. Walt Disney.


Meskipun ada kekurangan, film-film Disney setidaknya melekatkan hakikat kebaikan kepada anak-anak. Melalui kontras antara kebaikan dan kejahatan, anak-anak diharapkan memilih kebaikan karena keluar sebagai pemenang.

Lebih lanjut, anak-anak mungkin berhasil mengidentifikasi kebaikan dalam pribadi mereka. Kita melihat banyak anak-anak kemudian suka mengenakan kostum super man. Di sini peran orang tua akan menjadi penting, karena anak butuh pengakuan bahwa mereka memang super man. Bermain bersama anak dengan menekankan nilai-nilai ‘super man’ bisa berhasil membentuk kepribadian yang baik.

Ketika anak-anak menyukai super hero, bermain menjadi super hero, maka mereka menemukan perasaan mencintai diri mereka yang menjadi super hero. Sebagai orang tua, kita tidak boleh membunuh itu. Arahkan anak agar pada akhirnya mereka mencintai dirinya sendiri. Bukan cinta diri yang dimaksud, melainkan mencintai dirinya yang penuh dengan kebajikan.

Harapan dari proses pembelajaran semacam ini adalah anak tidak akan menemukan jati dirinya. Mereka menemukan nilai-nilai kebaikan di dalam dirinya yang membuat mereka senang. Meskipun imajinasi mereka penuh dengan super hero, tetapi kebajikan yang tumbuh tidak lagi imajinatif. Imbasnya, dengan ini mereka akan menjadi besar dengan nilai dari dalam diri sendiri. Jika sampai pada tahap ini, maka benarlah kata Disney: hanya dengan cintai diri kita sendiri, maka kita akan berhenti membandingkannya dengan orang lain.