Pendidikan Anak usia Dini: Budaya Apresiasi

Diperbarui: Apr 16


Perbedaan mendasar antara apresiasi dan sebuah pujian.

Apresiasi dan pujian kelihatan begitu dekat satu sama lain, memiliki kerangka yang sama sampai-sampai seseorang bisa saja tidak bisa membedakannya. Seorang anak kecil yang sedang mengobati anak anjingnya yang terluka, tiba-tiba mendengar orang tuanya berkata;”Wah, kamu hebat nak!”. Dan dia merasa senang. Kalimat dari orang tua ini akan menjadi bias bila kita tidak berhasil menangkap maksudnya. Kita bisa mendengar ini sebagai pujian tetapi bisa pula sebagai sebuah apresiasi.

Perbedaan antara apresiasi dan pujian sebenarnya sangat jelas. Suatu pujian tidak memiliki pedoman nilai, tidak berdampak luas dan hanya menyentuh sisi terluar seseorang. Apresiasi bekerja lebih dari itu, dan bahkan sangat berdekatan dengan rasa syukur. Tindakan apresiasi baik secara spontan maupun penuh pertimbangan muncul karena rasa syukur atas sesuatu yang muncul melalui tindakan, kehadiran dan pencapaian orang lain.


Enam dampak apresiasi terhadap anak usia dini.


The deepest craving of human nature is the need to be appreciated. - William James

1. Memberikan rasa aman pada anak

Dengan diapresiasi, anak akan belajar menghargai siapa dirinya, apa yang dia lakukan dan apa yang dia capai. Tidak ada perasaan aman yang lebih besar daripada rasa aman bahwa dirinya diharga, diterima dan dicintai. Apresiasi tidak berarti menghilangkan pujian. Kita bisa memuji betapa cantik anak itu dengan dress barunya sekali-sekali, tetapi lebih seringlah mengapresikan hal-haal yaang telah dilakukan anak itu sehingga dia bisa sehat dan cantik sampai sekarang.

Dengan memberikan apresiasi, orang dewasa kehilangan sifat kritik yang merusak. Anak-anak tidak tahan kritik, karena mereka belum bisa membedakan kritik dengan penolakan. Kritik yang terlontara paada anak usia dini sebaik apa pun niatnya, tetap akan mengikis kepercayaan diri. Sebaliknya, dengan memberikan apresiasi, anak akan merasa bahwa hal-hal baik semacam inilah yang harus dia kembangkan dan perbanyak, karena rasanya menyenangkan.

2. Membentuk karakter anak

Rasa sakit, kecewa, bahagia dan sukacita pada masa kanak-kanak berpengaruh pada perkembangan karakter anak setelahnya. Anak yang broken home cenderung membawa luka masa lalu menuju usia dewasa. Anak yang bahagia di masa kecil pun demikian. Perasaan-perasaan mengesankan yang di alami anak-anak mengendap ke dalam bawah sadarnya, sebagai komponen pembentuk jati diri mereka.

Sikap apresiatif memberi kesan yang luar biasa dari perasaan syukur, perasaan beruntung, dan perasaan berterima kasih. Lebih dari sekadar memuji dan menyanjung, orang tua yang memberi apresiasi terhadap anak-anak menanamkan suatu kesan positif ke dalam diri anak itu. Maka, dalam pertumbuhan karakternya, mereka akan terpicu oleh kesan-kesan tersebut untuk bertumbuh ke arah mana kesan tersebut membawa mereka.

3. Mengubah kebiasaan dan ketertarikan anak tentang sebuah hal atau nilai.

Seperti kebanyakan hal besar dan baik lainnya, apresiasi tidak bisa datang setiap saat. Hanya hal-hal tertentu yang pantas mendapatkannya. Ibaratnya sebuah hadiah spesial sering datang saat Natal atau ulang tahun, demikian pula apresiasi menunjukan betapa spesialnya sesuatu yang dicapai anak itu. Kita mungkin bisa memuji seseorang setiap waktu, namun beresiko kehilangan kekuatan dari pujian tersebut. Begitu pula suatu apresiasi. Sifatnya harus langka, tidak bisa diberikan setiap waktu. Karena kelangkaanya ini, anak akan mampu membedakan momen-momen apa ketikaa mereka mendapatkan suatu apresiasi. Meskipun anak-anak tidak bisa memahami makna dari apresiasi, namun mereka tentu mampu membedakan hal tersebut dari yang lain.

Setelah anak-anak berhasil mengidentifikasi kehadiran diri macam apa, sikap seperti apa, dan pencapaian yang bagaimana yang membuat orang tua memberi mereka begitu senang, bangga, bersyukur dan berterima kasih. Misalkan ketika mereka lebih memilih minum susu ketimbang makan es krim, lalu melihat itu orang tuanya membelikan mereka mainan baru yang pernah mereka minta sebelumnya. Dengan satu dan lain cara, anak akan memiliki pemahaman sederhana bahwa susu lebih baik daripada es krim. Kemudian dari dua hal ini, mereka bisa mengidentifikasi hal-hal lain; mana yang ‘es krim’ dan mana yang ‘susu’.

4. Memperdalam relasi.

Sebagaimana pujian dan sanjungan, apresiasi memberikan perasaan positif kepada anak-anak. Tetapi, pujian dan sanjungan adalah dua hal yang walaupun menarik namun cepat pudar. Hari ini anak anda mendapat pujian karena minum susu, besok atau lusa anda lupa memberinya pujian ketika dia melakukan hal yang sama. Dia mungkin akan mendapatkan pujian ketika dia membereskan mainannya. Jadi pujian, karena sikapnya hanya menyentuh sisi luar tanpa nilai yang hendak dicapai umumnya sulit dipertahankan.

Berbeda dengan apresiasi. Meskipun hadir hanya momen tertentu, tetapi menyentuh kedalaman yang membuat anak-anak menyimpan kesannya lebih lama. Kesan yang diterima oleh anak refleksi dari syukur orang tua karena berhadapan dengan hal yang spesial atau mungkin juga hal besar yang memang layak mendapat apresiasi. Perasaan bersyukur, beruntung, berterima kasih dan perasaan terpuaskan secara moral membuat orang tua menerima kehadiran anak-anaknya sebagai suatu hadiah yang tak terhingga.

5. Menciptakan sikap saling percaya

Apresiasi juga menciptakan trust. Seperti halnya pada orang dewasa, saling mempercayai antara orang tua dengan anak berpotensi mengurangi rasa ketergantungan anak. Dengan menerima apresiasi, seorang anak terdorong untuk menemukan hal-hal baik secara mandiri. Setelah dua tiga kali mendapat apresiasi, anak-anak akan memahami bahwa setiap kali mereka mendapat apresiasi pada saat yang sama orang tua merasa senang pada mereka. Keinginan membuat orang tua merasa senang, akan menjadikan anak mengerti bahwa hal-hal yang mereka tunjukan atau capai bakal mendapat berbagai macam respon dari orang tua. Termasuk rasa senang itu. Ketika perasaan itu terasa jujur dan tulus, maka rasa percaya mereka terhadap orang tua semakin kuat.

6. Membuat anak mengerti tentang nilainya

Sebuah sikap apresiasi memang sering diikuti dengan suatu tindakan tertentu atau pemberian hadiah dan semacamnya. Hal itu menjadi bahwa apresiasi merupakan tindakan nyata dari sebuah terima kasih dan perasaan syukur. Anak-anak lebih cepat merasakan suatu ekspresi sehingga ekspresi dari sikap apresiasi membuat mereka mengerti betapa berharganya mereka bagi orang tuanya. Mereka akhirnya mengenali nilai dari dirinya terhadap orang tua. Begitu mereka merasa bernilai, maka rasa aman dan percaya tumbuh. Maka, kembali ke poin nomor satu dan nomor dua, pembentukan karakter positif sedang terjadi di sini. Anak yang menyadari arti penting dirinya, akan menemukan jati diri mereka melalui hal-hal positif.


Mengapresiasi anak menambah kualitas diri orang tua.

Apresiasi tidak hanya bekerja terhadap orang yang mendapatkannya, tetapi juga kepada mereka yang memberikannya. Artinya, ketika orang tua memberi anak mereka suatu tindakan apresiatif maka mereka juga mendapatkan nilainya, mendapat energi positifnya serta meningkatkan kualitas pribadinya. Memuji anak hanya membuat anak tersebut senang, tetapi mengapresiasi anak membuat semua orang senang.


Appreciation is a wonderful thing; it makes what is excellent in others belong to us as well. - Voltaire

Sebagai orang tua, harus jeli memisahkan dua hal yang telah disebutkan di atas: memuji dan mengapresiasi, meskipun keduanya membutuhkan sikap yang tulus. Dari sikap orang tua, anak-anak akan belajar bagaimana mereka tumbuh.










1 tampilan0 komentar