Menjadi Orang Tua Dalam Krisis Kemanusiaan



Manusia Sebagai Pelaku Krisis Kemanusiaan

Krisis terbesar dari abad ke abad yang mengancam keberadaan manusia adalah krisis kemanusiaan itu sendiri. Krisis kemanusiaan tidak hanya menyangkut pelanggaran hak asasi, walaupun hak asasi merupakan hulu untuk segala bentuk permasalahan kemanusiaan. Tetapi, ketika kita berbicara tentang asasi hari-hari ini, kita hanya akan mentok pada hal-hal yang sudah jamak; penindasan, korban peperangan, masalah minoritas, kekerasan terhadap wanita dan anak, perampasan hak hidup dan beberapa hal lain yang memang menguat ke permukaan. Menyoal ini, bukan berarti pemahaman kita terhadap hak asasi menjadi dangkal, melainkan lebih karena kita tidak pernah tajam mencari tahu apa pemicunya.

Jika krisis kemanusiaan menyangkut manusia itu sendiri, maka hanya ada satu cara paling tepat untuk menyelesaikan krisis tersebut yakni membenah apa yang kita sebut sebagai ‘manusia’. Tanpa memperbaiki sumber masalahnya, maka penyelesaian terhadap krisis di atas hanya akan sebatas pada permukaannya. Segala bentuk pelanggaran hak asasi manusia hanya puncak dari gunung es yang mana dasarnya adalah kita_manusia_masing-masing individu. Lalu untuk menyebut individu tertentu, kita menarik lagi benangnya lebih jauh ke saat dimana awal pembentukan individu yang dimaksud. Maksudnya sangat sederhana, yakni kita harus berani menilai proses dimana kita memulai hidup sebagai manusia, yang mana manusia benar-benar manusia adalah yang terbebas dari krisis kemanusiaan.


Peran Orang Tua

Istilah parenting mulai menguat belakangan ini sementara pada kenyataannya bukan merupakan hal yang baru. Meskipun tidak ada makna definitif mengenai parenting, secara sempit kita bisa melihatnya sebagai cara menjadi orang tua. Menjadi orang tua artinya menjadi orang-orang yang berandil besar terhadap kader-kader manusia. Lebih besar lagi maknanya, dalam kristiani menjadi orang tua adalah menjadi tangan kanan Allah di dunia untuk menghadirkan manusia-manusia baru. Maka dari itu, tanggungjawab orang tua terhadap krisis kemanusiaan sebenarnya sangat besar.

Menghubungkan peran orang tua terhadap krisis kemanusiaan hanya bisa dimengerti apabila kita melihat manusia sebagai individu-individu yang bertumbuh melalui proses menjadi manusia. Tidak berarti bahwa kita menampik mahkluk yang baru lahir dari rahim seorang wanita adalah manusia. Makna manusia di sini lebih ditekankan kepada nilai kemanusiaan, bukan pada makna fisiknya. Seorang anak yang baru lahir, melalui peran orang tua, bertumbuh menjadi manusia baru. Di sinilah awal ketika sebuah individu terbentuk sehingga keterkaitan antara proses pembentukan sebuah individu dengan krisis kemanusiaan di masa depan yang dilakukan oleh individu-individu tersebut menjadi jelas.

Memaknai parenting sebagai cara menjadi orang tua merupakan bentuk dari kekhawatiran terhadap pembentukan individu-individu baru yang dimaksud. Kita menjadi sadar, bahwa semua bermula dari ketika manusia baru mulai menjadi manusia atau cara macam apa seseorang dibentuk menjadi manusia. Apakah dia melalui proses pembentukan yang baik? Ataukah dia telah melalui suatu diskriminasi serta penindasan di masa kecilnya sehingga ketika dewasa dia menjadi pelaku kekerasan? Bisa iya, bisa tidak. Namun, kita tidak boleh menampik bahwa parenting menjadi begitu penting karena kita telah memiliki konsep berpikir mengenai peran orang tua terhadap kehidupan seorang manusia.


Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Lukas 18:16


Teladan mendidik anak dalam buku To Kill a mockingbird

Banyak buku bagus tentang bagaimana menjadi orang tua di zaman sekarang, tips-tips bisa dengan mudah kita temukan di internet, namun hanya ada satu buku yang sangat saya suka di antara semuanya. To Kill a Mockingbird. Mungkin anda memiliki buku ini. Novel klasik tentang seorang ayah yang berhasil menjadi seorang pria sekaligus menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya.

Harper Lee telah menulis buku dengan sangat indah, dimana dia menggunakan sudut pandang seorang anak kecil untuk melihat kehidupan di sekitarnya serta memandang ayahnya yang membesarkan mereka. Scout Finch, panggilan untuk bocah perempuan itu, berusia enam tahun ketika dia mengisahkan kehidupannya yang dimulai dari sebuah musim panas di Maycomb city, Alabama. Dia tinggal bersama ayahnya, kakak lelakinya, serta seorang perempuan pembantu kulit hitam. Secara ringkas, buku ini mengisahkan tentang bagaimana Scout dan Jem tengah mengalami sebuah fase dimana pelajaran hidup paling penting dalam kehidupan mereka tengah diajarkan baik oleh lingkungan maupun oleh ayah mereka.

Atticus Finch adalah seorang pengacara di Maycomb, Alabama. Dia duda dengan seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun dan seorang putri berusia enam tahun. Sebagai seorang pria, dia adalah seorang pengacara yang cerdas, sementara di sisi lain sebagai orang tua dia adalah seorang ayah yang sangat bijak mendidik putranya menjadi pria sejati dan putrinya untuk menjadi wanita berwawasan, cerdas dan bijak. Atticus menjalani hidup dengan begitu tenang, menjadi pembela pria kulit hitam di pengadilan yang sangat rasis, lalu mendidik kedua anaknya dengan cara yang tidak biasa kita temukan di kebanyakan orang tua.

Meskipun buku ini merupakan sebuah kritik terhadap keadilan (rasisme pada waktu itu, 1930), saya hanya akan menyorot bagian-bagian dimana Scout dan Jem ‘belajar’ tentang kehidupan dari ayahnya:

1. Cara Aticcus Finch menanam nilai-nilai kepada kedua anaknya.

Tokoh Aticcus di dalam cerita tampak sebagai pria yang benar-benar tenang dalam setiap kondisi. Dia seperti memiliki benteng di dalam dirinya sendiri untuk tahan terhadap godaan dari banyak hal yang menyebabkan dia marah. Mulai dari pengadilan yang berat, sikap orang kulit putih yang meneriakinya sebagai pecinta niger, dan gangguan terhadap anak-anaknya sebagai akibat dari kehidupannya sebagai pengacara yang membela kaum kulit hitam. Ketika scout mengeluhkan bahwa semua orang menyalahi Atticus karena membela pemuda kulit hitam yang dituduh memperkosa wanita kulit putih serta menyebutnya sebagai pecinta niger, Aticcus memberitahu anaknya bahwa semua orang memang berhak memiliki pendapatnya masing-masing. “Tetapi sebelum saya bisa hidup dengan orang lain, saya harus bisa hidup dengan diri saya sendiri. Satu hal yang tidak mengikuti aturan mayoritas umum adalah hati nurani seseorang.”

2. Atticus menjelaskan kepada Scout tentang kedudukan masing-masing orang berdasarkan fungsi.

Scout dan Jem telah diajarkan membaca oleh ayah mereka sejak mereka bahkan belum sekolah. Hal ini karena mereka sering duduk di dekat ayahnya atau di atas pangkuannya ketika Aticcus membaca koran. Dan ketika Scout masuk sekolah, dia sudah terlebih dahulu lancar membaca ketimbang murid yang lain. Suatu hari Scout mengeluh kalau gurunya ternyata tidak menyukai kenyataan itu. Dengan senang hati Aticcus mengajak Scout untuk melihat masalah tersebut dari sudut pandang gurunya. Bahwa belum tentu gurunya tidak menyukai kenyataan bahwa Scout sudah bisa membaca, melainkan karena ada pertimbangan lain yang menyangkut kepentingan guru tersebut serta murid lain. “anda tidak akan mengetahui sudut pandang seseorang, kecuali dengan cara masuk ke balik kulitnya dan hidup dengan caranya.” (Baca juga tentang benar dan salah)

3. Aticcus selalu memberi jawaban yang jujur terhadap setiap pertanyaan sulit anak-anaknya.

Ini pelajaran yang berat. Banyak orang tua yang mencoba menghindari ini lalu mecari jalan memutar karena berpikir jawaban dari sebuah pertanyaan tertentu bisa mencederai pengetahuan anak mereka. Suatu kali Scout bertanya apa itu’pemerkosaan’ lalu Aticcus memberinya jawaban berdasarkan defenisi hukum yang dia ketahui. Dengan cara seperti ini, Aticcus menunjukan kalau dia mempercayai anak-anaknya sepenuhnya. Bagi dia, memberi jawaban yang jujur lebih baik karena anak-anak lebih cepat menyadari klau orang dewasa sedang menghindari pertanyaan mereka.

4. Aticcus mengajari anak-anaknya cara mengalahkan ego.

Ajaran ini sederhana, yakni ketika orang marah terhadap kita karena mereka sedang dalam posisi yang lemah maka kita tidak perlu membusungkan dada dan berjalan di atas kepala mereka. Justru Aticcus menunjukan kalau tetap tersnyum dan memberi mereka pujian akan memenangkan kita di dalam hati musuh.

Demikian, menjadi orang tua bukan perkara mudah. Namun, tidak juga terlalu sulit bila kita bisa tampil sebagai manusia yang apa adanya. Anak-anak selalu bercermin kepada orang tua di hadapannya. Begitulah hakikat penting dari istilah parentig. Kita menjadi orang tua karena paham bahwa ada anak-anak yang sedang mulai belajar dan bertumbuh dari bawah. Akan besar seperti apa mereka nanti, maka kita bisa menebaknya dari cari macam apa kita mengajari mereka.



baca juga: 
https://www.yka.or.id/post/indahnya-berbagi-menebar-kasih-kepada-sesama
https://www.yka.or.id/post/bidang-pendidikan-bantu-bangun-karakter-sdm-berkualitas



4 tampilan0 komentar

HUBUNGI KAMI

Jl. Taman Surya 5 , RT.7/RW.3,

Ruko Palm Crown Blok OO1 - 17

Pegadungan, Kec. Kalideres, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11830

SUBSCRIBE

© 2020 by Yayasan Kebun Anggur. Proudly created by Grow&Bless

  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube