Menjadi Tanpa Batas Dan Penuh Keajaiban

Diperbarui: Apr 16

Bagaimana Manusia Melihat Dirinya Sendiri


Ada sebuah dongeng kuno tentang putri salju dan penyihir. Dongeng ini menyertakan sebuah cermin ajaib milik si penyihir, yang mana dia membuatnya sendiri untuk mematut diri setiap hari dan bertanya tentang siapakah yang paling cantik di seluruh negeri.

Adapun putri salju tergambar sebagai gadis belia dengan kecantikan alami, baik fisik maupun sifatnya. Hari ketika si penyihir membenci putri salju adalah saat dia pertama kali bertanya kepada cermin ajaib, cermin itu menjawab bahwa putri salju-lah orang tercantik di seluruh negeri itu.

Melalui pengawalnya, si penyihir mencari sosok si putri salju ke seluruh pelosok untuk membunuhnya. Alasanya sederhana. Setiap kali dia menciptakan wajah baru untuk terlihat cantik di depan cermin, kecantikannya tetap kalah dari gadis itu.

Singkat cerita, putri salju mengalami pembunuhan demi pembunuhan dari si penyihir dalam berbagai cara. Tetapi, karena hidupnya beruntung dia selalu lolos begitu saja dari kematian. Sampai pada suatu hari, dia meracuni sepotong apel untuk dberikan kepada putri salju. Putri salju yang polos menelannya dan seketika potongan apel tersangkut seketika di tenggorokannya.

Ceritanya belum selesai di situ. Tetapi kita hanya perlu melihat kepada si penyihir untuk menemukan salah satu cara manusia melihat dirinya sendiri. Obsesi si penyihir terhadap kecantikan mewakili sikap kita yang menolak fakta bahwa manusia diciptakan untuk setara dengan manusia lain serta unggul atas ciptaan yang lain.

Manusia menciptakan kontras di antara keadaan-keadaan yang ada, kaya-miskin, cantik-jelek, tangguh-cacat. Melalui cermin ajaib kita menciptakan batasan-batasan, yang di satu sisi menjadi kekangan terhadap kemanusiaan dan di sisi yang lain menjadi lambang ketidaksempurnaan.

Menjadi Terbatas Dan Tidak Terbatas

Manusia yang terbatas

Sesuatu yang bisa dilihat secara fisik selalu terbatas, bukankah demikian? Kita mungkin bisa memperluas batasan tersebut, tetapi batasannya tetap ada di sana sebagaimana hakikat dari fisik adalah adanya batas. Sebuah kolam misalnya, hanya akan menjadi kolam bila ada batas yang jelas karena jika tidak dia akan menjadi danau atau mungkin lautan.

Manusia selalu memberi batas terhadap banyak hal. Hal positifnya, dengan adanya batasan maka kita memiliki penyebutan terhadap sesuatu hal. Kita berhasil membangun peradaban, tempat tinggal, sosial, dan sebagainya sebab kita memiliki konsep atas batas sebuah hal.

Namun, sama halnya dengan banyak konsep di dunia ini, batasan memiliki kelemahannya tersendiri. Di samping menetapkan identitas yang jelas, batasan jugalah pada akhirnya menyebabkan manusia tidak bersyukur dengan keberadaannya.

Menjadi tanpa batas dan penuh keajaiban

Jika melihat kenyataan bahwa kebanyakan batasan ternyata dibentuk oleh manusia itu sendiri, maka ada kesadaran tentang menjadi manusia yang tanpa batas. Apa maksud hidup tanpa batas di sini?

Hidup tanpa batas sebagai seorang manusia bisa bermakna sebagai kehendak hidup dengan tanpa memandang batasan sebagai penghalang dalam menerima keajaiban-keajaiban hidup. Maka dalam hal ini, manusia termasuk keajaiban itu sendiri di antara ciptaan lain.

1. Manusia sebagai ciptaan yang berkuasa atas ciptaan lain di bumi, sehingga pelestarian alam berada di atas pundaknya.

Barangkali ada yang salah dengan cara kita berpikir atau cara kita melihat kehidupan yang berkaitan dengan kerusakan alam dalam ukuran masif saat ini. Ketika manusia, oleh Tuhan ditetapkan sebagai penguasa atas segala ciptaan lain di dunia, tidak akan pernah berarti bahwa kita berkuasa dalam artian semena-mena terhadap ciptaan lain. Seharusnya kita menjadi pelestari yang handal, bukan sebaliknya. Manusia yang tanpa batas adalah manusia yang menyeberang dari sikap ‘tuan’ atas ciptaan lain ke sikap ‘pelayan’. Ketika kita selalu merusak lingkungan yang ada, maka kita masih berada pada batas manusia sebagai mahkluk lemah dengan ego yang kuat.

2. Merawat mahkluk lain adalah pekerjaan manusia.

Salah satu hal ajaib yang kitaa lupa adalah bahwa manusia, selain bisa menyembuhkan diri sendiri juga diberi kemampuan untuk merawat dan menyembuhkan ciptaan lain. Teknologi dan sains telah banyak menghilangkan perasaan terpesona dalam diri manusia dalam hal-hal yang saat ini dipandang remeh seperti menanam benih kemudian tumbuh pohon atau merawat kucing liar dan menjadikannya teman bermain. Dengan adanya teknologi dan sains, manusia selalu bisa menemukan jawaban atas segala sesuatu yang semula asing dan membingungkan. Kita mungkin tidak lagi melihat bunga yang mekar sebagai sesuatu hal yang ajaib karena sains sudah memiliki jawaban atas pertanyaan kita.


Menyambut Keajaiban Dalam Hidup

Salah satu cara menemukan keajaiban adalah menempatkan diri kita lebih jauh dari batasan. Ketika kita keluar dari rasa aman dan rasa nyaman untuk melakukan sesuatu yang membuat kita gentar misalnya, seringkali di sanalah kita akan melihat keajaiban.


Markus 6: 48-10, “Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

Mari kita melihat aksi-aksi nyata dari YKA dalam mengulurkan tangan kepada masyarakat di dusun-dusun yang jauh, di pelosok NTT misalnya. Melewati medan yang berat dan hidup di tengah masyarakat yang jauh dari fasilitas kesehatan, adalah perjuangan melewati batas-batas kenyamanan. Dan banyak kejadian tidak terduga, yang menjadi pengalaman anggota YKA dalam misi demi misi kemanusiaan, yang menunjukan bahwa keajaiban dalam hidup sungguh nyata. Dalam hal ini, kita menyadarinya sebagai mukjizat.


6 tampilan0 komentar