Ketika Kita Bertengkar, Kebenaran Macam Apa yang Dipertahankan?

Diperbarui: Apr 16

Bukankah, sebagaimana pikiran selalu muncul kapan saja dalam kepala, demikian pula cara kita menemukan alasan-alasan? Lalu, segepok alasan yang muncul ketika kita bertengkar menyangkut kebenaran atau hanya sebatas pembenaran semata?

*



Hari yang cerah di akhir november, begitu kereta melambat di sebuah perhentian antara depok dan bogor, seorang kakek tersuruk masuk sembari menenteng sebuah bungkusan cukup besar. Hari masih pagi, meskipun tidak bisa dikatakan sesak, nyaris tidak ada tempat duduk tersisa di dalam kereta. Sambil memegang erat tangan anak saya yang berusia tiga tahun, saya berdiri di dekat pintu bersandar pada dinding. Di samping saya, sejak dari Jakarta sepasang suami istri berdiri berdempetan dengan suami menopang istrinya dari belakang. Perut wanita itu menonjol keluar. Mereka masih sama-sama muda, dan wanita itu mungkin sudah hamil lima bulanan. Dengan berdiri pada posisi demikian, laki-laki itu berhasil menahan beban istrinya di tengah perjalanan.

Setelah kakek tadi masuk, kami, saya dan laki-laki itu bersamaan pindah ke tengah kereta dan berpegangan pada cantolan. Dengan lembut wanita hamil tersebut meminta si kakek menempati tempat kami tadi. Dan dia setuju, lalu duduk sambil berpegangan pada bungkusannya di lantai.

Semuanya baik-baik saja hingga di beberapa perhentian selanjutnya, dua orang remaja masuk sambil bercakap-cakap, lalu berdiri persis di samping si kakek. Tepat di detik ini, saya pikir mereka membuat kesalahan, karena begitu kereta bergerak kembali, pinggul salah satu dari remaja di sana membentur kepala si kakek, membuat si kakek jatuh ke samping dengan kepala menghantam dinding kereta. karena posisi kakek ini di lantai, tidak ada orang yang memperhatikannya, kecuali saya dan sepasang suami istri tadi.

Pria yang istrinya tengah hamil hanya bisa menggelengkan kepala, saya pun cuma terdiam dengan hati panas. Dua remaja yang rupanya tidak pernah menyadari bahwa mereka hampir saja membuat cedera seorang kakek, melanjutkan obrolan mereka. Sementara si kakek dengan susah payah memulihkan diri dan merapatkan bungkusan ke tubuhnya. Lalu, insiden kecil itu berlalu begitu saja.

**

Cara Kerja Alasan: Kebenaran vs Pembenaran

Kita selalu memiliki alasan, nyaris tiap waktu dan dalam jumlah yang tidak terbatas. Sebuah insiden kecil bahkan bisa menghadirkan lebih dari sepuluh alasan. Sebagai contoh, saya tentu bisa menyalahkan dua remaja yang bersangkutan atas tindakan tidak pantas terhadap seorang pria tua. Alasan saya tentang itu jelas, tersusun dari nilai-nilai yang menyangkut moral dan etika, yang saya anggap semua orang pun sepakat. Jika saya harus mendamprat mereka, saya pastikan banyak yang akan setuju.

Sayangnya, alasan bekerja dengan cara yang pelik. Seperti suatu selubung, alasan akan selalu muncul untuk melindungi diri dari serangan luar. Bukan tidak mungkin, sekali pun kedua remaja sepakat bahwa mendorong jatuh orang lain di dalam kereta adalah ‘tidak baik’, alasan yang bisa mereka berikan berbau antitesis. Bentuknya bisa macam-macam. Misalnya mereka tidak sengaja, atau bahwa mereka tidak pernah mengetahui ada seorang kakek-kakek yang duduk di lantai kereta.

Saya membayangkan, seandainya kejadian tersebut memantik pertengkaran di antara kami maka saya akan menyerang mereka dengan pernyataan mengenai keteledoran. Saya akan mengatai bahwa mereka ternyata tidak pernah menggunakan matanya dengan baik.

Untuk menangkal serangan saya, mereka mungkin akan berkelit. Atau setidaknya melepaskan rasa bersalah yang coba saya belitkan kepada mereka dengan mengatakan banyak hal, kalau mereka tengah sibuk mengobrol misalnya, sementara orang-orang yang naik ke kereta sambil mengobrol tidak hanya mereka saja. Bisa saja suatu waktu saya pernah seperti mereka.




Maka, mari kita sepakat tentang cara kerja sebuah alasan. Pertama, sama halnya dengan pikiran alasan selalui menemukan jalan keluarnya di dalam kepala. Tanpa perlu diminta, mereka terbit setiap saat. Kedua, untuk sebuah insiden yang buruk kita yang menyangkut kita, alasan datang untuk membungkus kita dengan kebenaran semu. Sebaliknya, untuk hal-hal bagus dan baik, alasan memberi kita dorongan untuk merasa bangga dan menonjolkan diri. Dalam sebuah pertengkaran, yang kita temukan hanyalah pembenaran-pembenaran yang kadang absurd.

***

Hukum Natur Tentang Benar Dan Salah.

C. S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity atau Kekristenan Asali berbicara mengenai ini. kita manusia memiliki apa yang dia sebut sebagai hukum natur mengenai benar dan salah. Natur karena tanpa perlu diajarkan kita telah mengetahuinya. Gagasan ini lebih diutamakan tentang perilaku moral dan tidak terkait oleh budaya atau peradaban. Hukum natur selalu lintas batas. Semua orang di dunia ini sepakat perang itu buruk, penindasan harus dilawan, perbudakan harus dihapus, anak-anak terlantar harus mendapat perhatian.

Memang betul, dalam hal-hal tertentu terdapat perbedaan-perbedaan moralitas. Tetapi perbedaan-perbedaan tersebut tidak pernah menjadi perbedaan yang total. Orang-orang Eropa dan Amerika bisa memanggil orang yang yang mereka tuakan dengan hanya menyebut nama. Berbeda dengan kita yang selalu mendahului dengan panggilan Pak, Bu, Om, Paman, Bibi. Tetapi, di antara kita dan mereka memiliki kesepakatan bahwa orang yang lebih tua harus dihormati.

Hukum natur mengenai benar dan salah menyebabkan umat manusia memiliki ide bahwa mereka harus berperilaku dengan cara tertentu. Namun, kenyataannya tidak semua berperilaku seperti itu. Kita mengenal hukum natur, dan pada yang sama kita selalu akan berpotensi untuk melanggarnya. Berangkat dari realitas ini, muncul dua kebiasaan kita; satu, kita mengkritik tabiat buruk kita sebagai sebuah kecolongan atau kelemahan, dua, kita merasa bertanggung jawab terhadap tabiat baik kita. Padahal ada opsi yang sehat bahwa baik tabiat baik maupun buruk yang kita miliki, harus sama-sama dikritik dan dipertanggungjawabkan.

****

Dua remaja tersebut tentu sepakat mendorong jatuh seseorang dalam kereta adalah perbuatan yang salah, apalagi jika orang bersangkutan sudah sepuh. Namun, bukan tidak mungkin bahwa bila saya mengajak mereka untuk melihat kejadian tersebut maka kami akan bertengkar.

Bertengkar menunjukan kalau kita berpikir orang lain salah. Dua orang yang sedang bertengkar sama-sama melakukan itu, saling menyalahkan dan saling mengklaim kebenaran. Di lain pihak, pada kenyataannya, pertengkaran hanya bisa terjadi bila dua pihak memiliki sebuah kesepakatan tentang benar atau salah. Saya hanya bisa bertengkar dengan kedua remaja tersebut jika saya dan mereka sama-sama mengetahui etika memperlakukan orang tua. Tanpa kesepakatan mengenai itu tentu saja saya tidak memiliki alasan. Sama halnya bila seorang guru yang baru saja menegur murid yang salah menjawab 10-9=8 bukannya 1 justru membuat mereka bertengkar karena ternyata si murid tidak menangkap pertanyaan dengan baik dan guru menegurnya terlalu keras.

Pertanyataan dalam paragraf di atas menunjukan sebuah ironi manusiawi kita. Kenapa sesuatu yang sama-sama disepakati lalu dipertengkarkan? Jawaban konkritnya adalah karena alasan-alasan yang dihadirkan. Inilah letak kekonyolan kita. Sebuah kesepakatan tidak lagi dilihat sebagai bentuk sah untuk dipatuhi, melainkan justru sebaliknya digunakan untuk mengadu alasan. Maka dari itu, makna sebuah kesepakatan menjadi bias lalu kabur begitu pertengkaran meletus, dan kita kemudian lupa apa yang dipertahankan dalam pertengkaran-pertengkaran.


8 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua