Dari YKA Untuk NTT: Kehadiran Yang Tak Ternilai

Bencana alam yang melanda sejumlah besar wilayah NTT pada April 2021, akan menjadi salah satu sejarah kelam masyarakat di propinsi itu. Cuaca ekstrim berupa angin kencang dan banjir bandang, menyebabkan tidak sedikit korban jiwa di samping kehilangan tempat tinggal dan pengungsian. Terhitung 3 kabupaten paling parah dampaknya (Alor, Flores Timur dan Lembata) dengan sejumlah korban jiwa. Sementara itu, kabupaten lain yang tersebar di tiga kepulauan berbeda (Flores, Sumba dan Timor) mengalami kerusakan materiil yang mencakup pemutusan aliran listrik berhari-hari dan berkurangnya pasokan air bersih.

Duka karena Korban Jiwa

Korban jiwa dalam jumlah yang banyak akan menimbulkan trauma yang lama pada pribadi-pribadi orang NTT. Sebagai orang-orang desa yang hidup dengan cara sederhana, berita tentang kematian yang menimpa saudara-saudaranya di beberapa pelosok begitu mencekam. Duka yang timbul akan terasa lebih lama dari sebelum-sebelumnya.

Kehidupan sosial, budaya dan kekerabatan yang terikat satu dengan yang lain, membuat penduduk NTT terikat dalam satu penderitaan yang sama. Hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang di sana adalah satu pula sama dengan satu darah. Kematian orang-orang di Flores Timur turut menitikan air mata bagi penduduk di Labuan Bajo (Flores Barat). Kehilangan sanak saudara Di Alor, kesedihannya akan merambat hingga ke So’e atau Sumba.

Dalam tahun-tahun ke depan, cerita-cerita dari hari ini akan selalu kembali dikenang oleh orang-orang NTT. Buku-buku akan ditulis dan lagu-lagu akan dinyanyikan.

Orang-Orang Miskin dalam Bencana

Salah satu kekhawatiran orang-orang miskin adalah bagaimana jika suatu hari harta benda mereka yang jumlah tidak seberapa hilang begitu saja?

Dari berbagai sumber, NTT masih tercatat sebagai propinsi dengan jumlah masyarakat miskin yang tinggi. Pendidikan dan pembangunan yang belum merata adalah bagian dari alasan mengapa penduduk di sana banyak masih hidup di bawah garis kemiskinan. Dan ketika bencana datang hari-hari ini, mereka nyaris tidak memiliki lagi hal apa pun yang membuat mereka bertahan hidup.

Dampak dari bencana alam pada bulan April, bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota kabupaten adalah putusnya arus listrik dan persediaan air bersih menipis. Tetapi, bagi masyarakat pedesaan dampaknya lebih buruk. Curah hujan ekstrim dan angin kencang merobohkan banyak rumah penduduk, membanjiri tanaman dan ternak, serta membuat tanah-tanah longsor di sekitar. Longsor dan banjir adalah dua faktor penyebab kematian banyak orang dalam bencana NTT ini.

Topografi pulau-pula di NTT memiliki banyak area perbukitan yang mana penduduknya menetap di lereng dan kaki-kaki bukit. Sangat jarang ditemukan wilayah yang datar sehingga penduduk desa di sana hidup bercocok tanam bukan bersawah melainkan palawija. Dengan teknik bertani yang seadanya, masyarakat pedesaan bergantung pada hasil panen yang datang setiap musim.

Selain bertani, sebagian wilayah yang berada di tepi pantai hanya bergantung dari hasil melaut. Sama halnya dengan petani di desa-desa, masyarakat tepi pantai di NTT belum mendapat banyak bantuan untuk peningkatan taraf hidup. Kebanyakan nelayan masih mencari penghasilan dengan cara tradisional.

Baik nelayan maupun petani, belum memiliki standar hidup yang baik. Akses terhadap hasil nelayan dan hasil pertanian yang belum terbuka lebar menyebabkan mereka menjual dengan harga rendah. Kemiskinan mereka mempunyai mata rantai yang saling terkait sehingga generasi di bawah mereka yakni anak-anak tidak mendapatkan asupan pendidikan yang memadai.

Dengan cara hidup yang seperti ini, masyarakat desa di banyak wilayah NTT sangat memerlukan bantuan. Bahkan jauh-jauh hari sebelum bencana datang. Lalu sekarang, ketika akhirnya badai meluluhlantakan apa yang ada pada mereka, siapakah yang bisa menebak akan menjadi apa kehidupan mereka selanjutnya?

Paskah 2021 yang Tidak Bahagia

Paskah umat Kristen jatuh pada 4 April 2021. Sebagai propinsi mayoritas Kristiani, masyarakat NTT seharusnya merayakan hari-Nya dengan sukacita.

Cuaca ekstrim yang menyebabkan bencana alam besar hari ini, bukanlah hal yang lumrah di sana. NTT selalu jauh dari itu. Bukan berarti tidak pernah ada bencana. Pada 1992 pernah terjadi gempa besar dan tsunami yang menimbulkan kerusakan parah di pulau Flores khususnya kabupaten Maumere. Selain itu, peristiwa gunung berapi masih sering menyebabkan pengungsian. Akan tetapi, badai pada tahun ini mungkin satu hal yang jauh dari pikiran semua orang. Tidak ada orang NTT yang sempat berpikir bahwa hujan dan angin bisa menimbulkan kematian yang demikian besar.

Bencana alam yang bertepatan dengan hari raya Paskah 2021 membuat sebagian orang NTT bertanya-tanya, mengapa Tuhan? Mengapa di tengah ketakutan akibat corona, harus datang malapetaka yang lebih dahsyat?

Orang-orang NTT, dengan cara berpikir mereka yang sederhana menemukan cara lain untuk mendekatkan diri dengan pencipta-Nya. Di tengah nestapa dan luka yang masih basah, mereka mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Ketika Presiden RI datang menengok, orang-orang yang masih berbalut lumpur itu riuh rendah menyambut. Bagaimana pun, mereka merasakan sentuhan tangan Tuhan. Dalam badai dan banjir. Paskah tahun ini nyaris tanpa perayaan di sana. Tetapi ada harapan bahwa mereka akan kembali bangkit.

Orang-orang miskin yang tertimpa bencana adalah hal yang sulit untuk tidak meletakan simpati dan empati di atasnya. Karena keterbatasan sumber daya, mereka akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih. Maka dari itu, sejak kemarin hingga beberapa waktu ke depan, orang-orang NTT akan terus membutuhkan bantuan.

Terima kasih kepada para donatur yang lewat tangan pengurus YKA telah hadir ke tengah masyarakat NTT. Semoga kebaikan dan bantuan akan menetap hingga mereka sembuh dari luka-luka dan duka.


6 tampilan0 komentar