5 Alasan Orang NTT Bersuara Keras (Bukan Kasar)

Diperbarui: Apr 16


Sosial Budaya

Masyarakat Nusa Tenggara Timur masih sangat kental dengan nilai budaya dan adat istiadat di masing-masing wilayahnya. Melewati zaman ke zaman, hingga di era ini masyarakat tetap hidup dengan budaya nenek moyangnya. Tentu saja yang paling mencolok adalah lingkup hidup orang-orang di desa.

Tinggal di desa dan kampung tidak pernah berarti orang Timur soliter. Orang Timur hidup dalam komunitas-komunitas kampung yang mana hingga sekarang bentuk-bentuk kampung adat masih ditemukan di desa. Di Bajawa misalnya, kampung adat terbentuk dengan rumah-rumah adat berdiri melingkari sebuah halaman luas di tengah-tengah. Baik rumah maupun halamannya mempunyai nilai budayanya sendiri. Rumah-rumah adat merupakan rumah suku yang di dalamnya secara turun temurun telah diletakan teladan dan warisan. Halaman di tengah kampung adalah sebuah tempat di mana segala prosesi adat berlangsung, mulai dari upacara seremonial yang melibatkan hewan-hewan kurban hingga upacara keagamaan.

Lalu, apa hubungannya dengan cara berbicara mereka yang keras dan lantang?

1. Kebiasaan Berkumpul Dan Mengeluarkan Suara

Terlepas dari budaya dan adat istiadat di daerah tersebut, halaman luas di tengah kampung menjadi lahan bermain. Pada hari minggu halaman ini bisa terbagi menjadi beberapa bidang lapangan; orang-orang dewasa bermain volley sementara anak-anak bermain sepak bola. Dulu sekali sebelum listrik masuk desa, pada malam-malam purnama anak-anak kampung akan turun ke halaman dan memainkan macam-macam permainan.

Orang Timur senang terlibat dalam permainan. Bila anak-anak yang bermain maka kaum dewasa menjadi penonton dari depan rumah. Sebaliknya bila orang dewasa bermain atau bertanding, anak-anak menjadi penontonnya. Suara-suara penonton bercampur dengan suara-suara pemain, menjadi gaduh, saling meneriaki dan bersorak sorai.

Selain itu dalam kehidupan sehari-hari orang-orang saling memanggil dan menyapa dengan suara keras. Kehidupan berkomunitas, dengan rumah saling berdampingan dan berhadapan semacam ini, memungkinkan penghuni kampung saling memanggil dan menyahut. Dari seberang sana memanggil ke kemari. Suara untuk melewati halaman yang cukup luas itu harus lantang dan keras, bahkan jika hanya sebuah sapaan. Misalnya bila rumah di deretan selatan sementara teman sekelasmu di barisan utara, dimana halaman yang membentang biasanya lebih luas karena deretan rumah di timur dan barat biasa lebih banyak, kamu bisa memanggil temanmu untuk minum kopi pagi dengan berteriak keras. jika lelah berteriak kamu bisa melambaikan tangannya. Tetapi jika temanmu belum tanggap juga, maka orang yang kebetulan mendengar suaramu akan meneruskan panggilanmu kepada temannya dengan suaranya yang juga keras.

2. Petani-Petani Yang Bahagia

Pada masyarakat yang tinggal jauh dari pesisir pantai, mata pencaharian utama masih bertani. Semua orang yang tinggal di sebuah kampung memiliki bidang-bidang tanah. Kepemilikan lahan ini biasanya diatur oleh suku di dalam rumah-rumah adat.

Meskipun dunia sudah jauh berubah, menjadi petani di sana bukanlah sebuah profesi. Mereka menanam karena hanya dengan cara itu mereka makan dan hidup. Hampir dipastikan bahwa tidak ada kompetisi di bidang pertanian. Orang-orang menanam apa saja yang mereka suka, dan saling memberi apa yang mereka punya.

Dari kehidupan sosial yang demikian, maka kehidupan di kebun-kebun tidak jauh berbeda dengan kehidupan di kampung. Pada siang hari semua orang pergi ke kebun dan sore hari pulang ke kampung. Karena kebun mereka tidak pernah saling berjauhan dan hanya berupa sebuah lahan luas yang di bagi-bagi dengan batas hanya berupa pepohonan (umumnya pohon kelapa, kemiri, pisang), mereka menjadi terbiasa berkebun secara berkelompok. Pagi hari berangkat dari rumah bersamaan, masuk ke kebun masing-masing, makan siang bersama, lalu pulang bersama.

Saling memanggil dan menyapa di kebun sudah lazim. Jika anda pergi ke kebun, setiap kali melewati kebun seseorang anda akan meneriakan namanya. Bila terdengar sapaanmu, maka orang di tengah kebun akan balas menyapa dan melontarkan beberapa percakapan ringan. Atau misalkan pada saat makan siang, jika anda kehabisan garam anda bisa menanyakan tetangga kebunmu. Yang paling sering adalah ketika tetanggamu menanggkap seekor hewan yang masuk ke kebunnya maka dia akan memanggil semua tetangganya untuk datang masak bersama di kebunnya. Tentu saja masih dengan suara lantang yang sama.

3. Senang Berpesta Atau Makan-Makan

Bila sebagian orang berpikir pesta identik dengan kemewahan atau pemborosan, maka orang Timur tidaklah demikian. Pesta adalah perayaan. Dan semua momen yang mereka anggap penting harus dirayakan.

Terdapat dua jenis perayaan yang paling banyak dipestakan yakni perayaan keagamaan dan perayaan budaya. Dalam keagamaan, orang Katolik misalnya, dalam setahun ada pesta Natal dan Pesta paskah. Selain itu ada pula pesta perayaan sakramen. Jika ada bayi baru lahir yang dibaptis , pesta. Anak menerima komuni pertama, pesta. Pernikahan, pesta besar. Tahbisan Imamat, pesta rakyat. Pesta dalam perayaan budaya umumnya menyangkut pembangunan rumah adat. Pesta jenis ini adalah pesta adat yang melibatkan acara makan minum tanpa henti dalam kurun waktu tertentu.

Satu hal lagi yang tidak bisa dipisahkan dalam pesta orang Timur adalah minum. Bukan air yang dimaksud, melainkan tuak atau arak. Orang Timur untuk bersenang-senang dan untuk merayakan. Apabila ada stereotip bahwa orang Timur adalah pemabuk, maka itu salah besar. Orang Timur suka minum tuak karena mereka selalu merayakan sesuatu dalam hidupnya. Dalam tuak seperti adanya kegembiraan.

Kita tahu apa itu pesta. Selalu ada keramaian, sederetan makanan dan minuman, tari-tarian. Suara orang-orang bersaing dengan suara musik. Mereka menari dan tertawa. Suara mereka keras dan tawa mereka kencang.

4. Suka Bercerita Dan Tertawa

Menjadi orang Timur artinya menjadi orang yang hidup dikelilingi kerabat dan teman-teman. Setiap hari mmerupakan pergumulan dengan sesamanya. Tanpa orang lain, kehidupan diri sendiri benar-benar hambar.

Mereka suka berkumpul. Mungkin karena kehidupan mereka berat dan berbagi adalah cara untuk meringankannya. Ketika mereka berkumpul, maka mereka akan saling bercerita, tentang apa saja. Dua sahabat yang kebetulan berpapasan di atas sepeda motor bisa saja berhenti kemudian bercerita untuk waktu yang lama. Ibu-ibu yang sedang menenun kain sering pula bercakap-cakap tentang kisah sinetron yang sama-sama mereka tonton di malam sebelumnya. Anak-anak remaja dan pemuda bisa terlihat nongkrong di satu bengkel tertentu sambil bercerita mengenai klub bola mereka.

Apa pun itu, entah serius atau tidak serius, intinya mereka suka berkumpul dan berbicara satu sama lain. Jika cerita sedang seru maka mereka bisa saling menyela, saling mengejek, dan saling menyoraki. Tetapi tidak pernah terletus perang. Dalam cerita-cerita itu orang luar bisa melihat kalau hati orang Timur mudah mencair dan menghangat. Suara tawa mereka mungkin saja tawa paling keras yang pernah kita dengar dan mungkin pula yang paling tulus.

Demikian sedikit alasan, kenapa banyak orang sering bertanya kenapa orang Timur kalo ngomong suaranya keras, kalau sedang ngobrol kedengarannya seperti bertengkar.




8 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua